Harkitnas 2017, HMI Cabang Makassar Gelar Dialog Kebangsaan

0
158

Kabarpena.com, Makassar – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar menggelar dialog Kebangsaan, di Warkop 212 Jalan Boulevard Makassar, Sabtu (20/5/2017).

Acara yang dihadiri oleh puluhan Kader HmI Cabang Makassar ini mengangkat tema “Refleksi Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Membaca Gelombang Nasionalisme.”

Hadir sebagai narasumber, Mantan Ketua Umum DPP IMM, Fajlurrahman Jurdi, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar, Dr. Natsar Desi dan Pengamat Sosil politik, Arqam Aziqin.

Ketua Umum HMI Cabang Makassar Muwaffiq Nurmiansyah ketika dimintai keterangan di lokasi dialog mengaku kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2017.

“Melalui momentum Harkitnas, semangat Nasionalisme kita harus tetap terjaga, apalagi melihat kondisi kebangsaan yang kian mengalami keretakan. “Ini tidak terlepas dari terkikisnya nilai nasionalisme kita,” ujar Muwaffiq.

Peserta Dialog Kebangsaan, “Refleksi Harkitnas, Membaca Gelombang Nasionalisme,” Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Makassar, Sabtu (20/5/2017) di Warkop 212 Jalan Boulevard, Makassar.

Sementara, Arqam Azikin pada kesempatannya mengatakan bahwa tidak usah terlalu jauh mengambil contoh jika hendak membincangkan tentang nasionaliseme. Seberapa jauh kita berpikiran lokal dan pemahaman kita tentang sejarah perjuangan pahlawan khususnya di Sulawesi Selatan.

“Itu juga salah satu indikator apakah semangat nasionaliseme berada dalam sanubari kita semua sebagai warga negara,” pungkasnya.

“Apakah kita punya Local Wisdom. Nasionalisme tidak usah terlalu diteorikan, sederhana saja apakah kita sudah berpikir lokal, tapi bukan menafikan keberadaan negara,” kata Arqam, Dosen Fisip Unismuh itu.

Nah, hari ini yang sementara hangat dibincangkan persoalan dugaan penghinaan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dan apakah itu adalah wujud dari semangat nasionalisme, kata Arqam dengan nada heran.

“Fatal jika ada yang mencoba menghina Wakil Presiden karena sama halnya menghina sombil negara. “Pak JK adalah kepala negara, Wakil Presiden, kalau ketersingungan suku itu sangat kecil. Aneh rasanya menghina Presiden dan wakil Presiden di depan umum apalagi tanpa data yang valid. Fatal itu, sama dengan menghina Negara,” ungkapnya.

Sementara, Natsar Desi dalam paparannya mengatakan, gelombang nasionalisme hari ini nampaknya semakin simpang siur diakibatkan oleh adanya insiden yang menyertai Pilkada Jakarta baru-baru ini.

Ia mengatakan gerakan yang menuntut keadilan dari sekelompok orang tersebut memang nampaknya lebih memunculkan simbol Islam ketimbang simbol merah putih. “Lebih kental simbol Islam, bukan simbol merah putih, itulah mungkin yang dianggap menjadi kelompok yang tidak nasionalis,” kata Natsar juga mantan Ketua Umum HmI Cabang Makassar itu.

Menurut dia, pandangan kepada kelompok yang dianggap tidak nasionalis itu muncul lantaran banyak dari warga negara belum tuntas membicarakan tentang Bhineka Tunggal Ika.

“Bhineka Tunggal Ika mesti harus di buka kembali, agar kita semua tahu bahwa ternyata kita berbeda-beda tapi tegap satu kesatuan yakni NKRI, ini yang harus ditanamkan kepada seluruh generasi bangsa ini,” terang pria yang akrab di sapa Alo.