Kenapa Mahasiswa Harus Berorganisasi???

0
17

Kabarpena.,Sinjai-Bagi seorang mahasiswa eksistensialis, ada pergulatan batin dan pikiran yang rumit ketika menjelan penyelesaian studi, tidak semua di dunia ini berjalan sesuai dengan keinginan kita. Sebagai mahasiswa, harus siap dengan segala tantangan”, katanya Tamsil Mahasiswa Organisator IAIM Sinjai jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Ushuluddin dan Komunikasi Islam

Bagi seorang mahasiswa, organisasi adalah keniscayaan yang mengantarkan sampai proses penyelesaian, bagiku organisasi merupakan polemik yang datang menghampiri layaknya tagihan uang kuliah yang selalu muncul setiap awal semester.

Lantaran menganggapnya bahwa organisasi mengganggu proses perkuliahan yang akhirnya akan lambat penyelesaian studi. Saya bukan bagian dari itu Saya, dan mungkin mewakili sebagian lain di luar kategori di atas sering ‘menganggap’ diri sendiri dan ‘dianggap’ oleh orang lain sedang mengalami krisis eksistensi.

Sungguh abstrak yang disampaikan oleh Adies Baswedan mantan menteri pendidikan dan kebudayaan yang yang kini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta “ijazah hanya mengantarkan kalian pada tahap wawancara, tapi skill yang mengantarkan kalian lolos dari wawancara”

Begitulah Anies Baswedan menggambarkan betapa pentingnya skill harus dimiliki seorang mahasiswa, dan itu semua didapatkan dalam organisasi. Siklus mahasiswa 65% bangun tidur, sarapan pergi ke kampus, kuliah, istirahat, pulang, makan lagi, lalu tidur terus berulang setiap harinya, secara rutin, maka jangan heran ketika disebut mahasiswa kupu – kupu (Kuliah – pulang). Hingga akhirnya muncul pertanyaan dalam benak saya, “Mengapa mahasiswa harus berorganisasi??? ”

Sebuah pertanyaan yang menggambarkan keresahan terdalam pada diri saya yakni kehendak untuk memperoleh jawaban serta kejelasan. Namun apa yang saya peroleh? Pertentangan dan ketidakselarasan. Pasalnya, kemudian saya sadari bahwa dunia ini irasional dan tidak akan dapat dimengerti. Sama halnya dengan kata-kata yang saya kutip di awal tadi.

Dinamika yang nyata dan bersinggungan langsung dengan proses pembelajaran bangku kuliah adalah ketika para mahasiswa eksistensialis berpegang teguh pada prinsip bahwa “saya harus meraih IPK tertinggi dengan fokus akademik organisasi tidak penting bagi saya, sebab kuliah tujuan utama saya”. Adapun artinya, manusia yang bebas akan selalu berproses untuk menciptakan dirinya. Dengan kata lain, manusia yang bebas, dapat mengatur, memilih, dan memberi makna pada realitasnya sendiri.

Aspek ini tentu menjadi kendala tatkala seorang mahasiswa eksistensialis memasuki tahap penyelesaian dan menjadi sarjana, mereka keluar membawa selembaran kertas berisikan nilai lalu melamar pekerjaan, lalu muncul pertanyaan dibenak saya apakah nilai tersebut menjadi senjata untuk diterima dalam bekerja, mungkin saja iya, dan mungkin saja tidak, tapi ketika kita membawa skiil bisa dipastikan dan penuh pertimbangan agar bisa diterima, maka tidak salah jika mahasiswa eksistensialis akan cenderung mencari, memikirkan, dan menggali makna terdalam atau esensi organisasi, Pergulatan batin dan pikiran atas makna yang akan disematkan pada pengalaman organisasi itu kelak bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat dipandang sebelah mata.

Hal tersebut jangan dipahami sebagai sikap egoisme. Pasalnya, para eksistensialis juga meyakini bahwa orang lain di luar dirinya memiliki subyektifitas yang sama seperti yang dimilikinya. Konsepsi ini lebih tepat digambarkan melalui pemahaman bahwa manusia hidup dalam konstruksi buatannya sendiri dengan jalan pengalaman yang didapatkan dalam organisasi.

Melalui hal tersebut sesuatu diberi nama, tujuan, serta makna. Maka dari itu, semestinya mahasiswa dapat menjalankan eksistensinya dan bertanggung jawab atas dirinya dan realitas di sekitarnya termasuk dalam hal mengikuti kegiatan organisasi.

Sayangnya problematika dalam organisasi yang dihadapi para eksistensialis ini tidaklah cukup. Pemikiran bahwa hakikat setiap relasi manusia adalah sebuah konflik menjadi permasalahan berikutnya. Para eksistensialis akan cenderung memandang bahwa tidak ada yang namanya ‘cinta obyektif’ dalam setiap relasi. Namun, yang ada hanyalah pamrih, karena ‘aku’ akan selalu (mengobyekkan) orang lain. Tentu hal ini bertentangan dengan prinsip sebelumnya bahwa ia mengedepankan asas subyektifitas.

Tapi di luar itu semua, perlu dipahami bahwa mahasiswa yang sadar akan eksistensinya adalah manusia yang bertanggung jawab dan memikirkan masa depan. Meskipun dalam menentukan pilihan, kita tidak dapat serta merta menghilangkan rasa takut atau cemas atas segala konsekuensinya ketika mengikuti lembaga organisasi pasalnya ia berhak untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya.

Terakhir, untuk siapa pun. Terutama yang sedang mengalami keraguan untuk berorganisasi pergulatan terkait eksistensi diri sebagai agen of change dan agen of control. Pahamilah bahwa esensi manusia adalah akan selalu mengejar bayangannya. Apa yang hendak kita kejar pada dasarnya sudah diketahui hasilnya. Namun manusia memang harus senantiasa berbuat dan mengambil pilihan-pilihan itu meski sulit sekalipun, ayo raih cita-cita dengan bergabung lembaga organisasi, disana engkau mendapatkan sejuta pengalaman.

Penulis : Tamsil