[Opini] Literasi Sebagai Tradisi Intelektual Kekinian

0
215

LITERASI SEBAGAI TRADISI INTELEKTUAL KEKINIAN
Fatmawati (I Makkacici’)

Kabarpena.com-Opini Perintah membaca, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-alaq ayat 1-5 sebagai surah yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, bukanlah sekedar perintah. Melainkan sebuah tugas yang diamanahkan oleh Sang Pencipta dan seharusnya mampu dimaknai serta diamalkan oleh umat manusia. Terutama kalangan yang menyebut diri mereka “kaum intelektual” atau kaum yang tercerahkan (cendekiawan).

Saat memaknai teks-teks dalam surah Al-alaq ini, sekiranya muncul sebuah kesepakatan bahwa di sinilah awal tradisi intelektual itu bermula. Sebuah tradisi yang disebut sebagai “literasi” atau tradisi baca tulis. Kita juga perlu bersepakat bahwa seseorang tidak dapat menulis dan berdiskusi dengan baik jika tidak mampu membaca, baik secara teks maupun konteks. Akan tetapi, bukan hanya itu yang perlu dipahami. Hal terpenting lainnya dari proses membaca itu adalah aksi atau pengamalan (intertekstualitas).
Membaca, menulis dan berdiskusi menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagai sebuah tradisi intelektual yang akan menghasilkan karya atau aksi nyata, demi membangun suatu peradaban. Tradisi intelektual merupakan medium transformasi yang sejatinya menjadi wadah pencerahan. Wadah yang diharapkan mampu mendukung tugas-tugas kaum intelektual dalam memberantas kebodohan, sekaligus menjadi pondasi utama untuk sebuah peradaban yang dapat mengubah wajah dunia. Pertanyaannya, apa yang akan terjadi jika tradisi ini tinggalkan?
Tradisi intelektual yang sudah ada sejak dulu, kini memasuki fase yang berbeda, di kalangan kaum muda milenial. Internalisasi budaya-budaya baru, perkembangan teknologi informasi, serta kurangnya fasilitas yang diharapkan dapat menunjang keberlangsungan tradisi tersebut, dianulir menjadi penyebab utama terkikisnya sebuah tradisi yang seharusnya dirawat oleh kaum terpelajar itu.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mempertahankan tradisi tersebut dikalangan kaum milenial saat ini? Ataukah, tradisi ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman, sehingga menggantinya dengan tradisi baru adalah solusi?

Ruang sebenarnya bukanlah masalah yang paling krusial. Sebenarnya banyak ruang yang telah disulap sedemikian menariknya sebagai tempat untuk mengembangkan tradisi intelektual tersebut. Melalui ruang-ruang itulah, para generasi muda bisa sharing gagasan, berdiskusi, membaca hingga belajar menulis. Namun pada kenyataannya, begitu banyak orang, khususnya pemuda yang hanya menjadikan ruang-ruang tersebut sebagai tempat pembuktian eksistensi diri saja.
Warung kopi, hanya dijadikan tempat nongkrong dan selfii-selfi. Jarang kita melihat kaum terpelajar memanfaatkan warung kopi sebagai tempat berdiskusi. Di sisi lain, fasilitas perpustakaan dan taman baca yang kurang memadai dan kurang terawat, mengakibatkan para pelajar enggan berkunjung, meski sekedar memanfaatkan waktu luang apalagi untuk menambah pengetahuan. Bahkan. ruang-ruang terbuka hijau, semakin jarang digunakan sebagai tempat berbagi ilmu. Ruang-ruang ini semakin sunyi, nyaris kehilangan penghuni.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi intelektual yang selama ini telah dibangun, semakin tergerus oleh zaman. Tradisi ini seolah tidak menggairahkan lagi bagi pemuda. Fenomena ini memunculkan sebuah anggapan bahwa, para kaum muda hari ini, membutuhkan tradisi intelektual dalam bentuk dan metode pengkajian yang baru. Sehingga perlu meninggalkan budaya-budaya lama yang tidak lagi relevan diangkat sebagai tradisi intelektual. Jika demikian, tradisi intelektual seperti apa yang cocok sebagai tradisi kekinian?
Jika para generasi muda lebih senang membuka internet ketimbang membaca buku, itu bukanlah sebuah hal yang harus di judge sebagai perilaku yang salah. Fenomena ini merupakan wujud nyata sebuah globalisasi yang tak bisa dihindari. Justru, fenomena ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para pegiat literasi dalam meningkatkan metode yang dapat menarik perhatian kaum muda lebih banyak.

Bagi penulis, literasi merupakan sebuah tradisi yang tak akan pernah hilang dari dunia intelektual. Olehnya, meskipun zaman telah berubah, tradisi literasi harus tetap menggelora. Hanya saja tradisi ini harus dikemas lebih menarik, agar tak kehilangan pesona. Apalagi ditengah akses informasi yang semakin terbuka dan pengetahuan semakin berkembang. Tugas tersebut merupakan tanggungjawab kita bersama, terutama kaum intelektual agar lebih giat mensosialisasikan tradisi intelektual ini dengan kemasan yang lebih menarik lagi. Misalnya, mengaitkan kegiatan diskusi dengan kesenian, membuka lapak baca di taman, atau belajar menulis di pegunungan. Bisa sekalian wisata alam dan menghibur diri bukan.
“Literasi merupakan sikap mental yang tak dapat dibangun sekedar dengan sekolah, tak juga sekedar dengan buku-buku. Antusiasme kita dalam membaca buku saja tidak akan mampu membangun tradisi literasi. Selama tidak kita lengkapi dengan daya kritis, refleksi dan skeptisisme atas apapun yang kita baca.” (Iqbal Aji Daryono)
Keberhasilan literasi bukan hanya dinilai dari minat baca yang tinggi saja. Akan tetapi bagaimana menjadikan literasi ini dimaknai sebagi tradisi kritis. Tidak sekedar media menambah wawasan bagi para pegiatnya. Akan tetapi bagaimana mengelola wawasan dan pengetahuan berbasis pengalaman itu, untuk dijadikan acuan dalam melakukan pengamalan, sebuah aksi pencerahan atau pembebasan. Keberanian berpendapat, kemerdekaan bersuara di ruang-ruang publik merupakan bentuk kecil keberhasilan literasi.

Selanjutnya, agar literasi semakin menarik, maka tradisi ini tidak hanya perlu dicipta pada ruang-ruang kelas, dan tertutup pada ruang-ruang itu saja. Perlu, untuk membuka ruang-ruang diskusi dimanapun kita berada dan menggaungkan tradisi membaca, agar lebih mudah menganalisis berbagai polemik yang membutuhkan pemecahan. Literasi menambah kemampuan seseorang untuk berdialektika dengan keadaan sekitarnya, termasuk dalam berfikir. Kemampuan itu akan meningkat seiring dengan pemahaman yang mendalam terhadap sesuatu. Dan pemahaman mendalam itu didapatkan dari tradisi literasi, melalui membaca, berdiskusi atau kajian-kanjian yang digagas oleh kelompok-kelompok kecil yang tercerahkan.
Berkaca dari hal tersebut, maka akan memicu kita untuk lebih kreatif dalam aksi. Gagasan-gagasan yang cerdas lahir dari ruang-ruang diskusi kelompok yang memiliki visi besar. Kegiatan pengkajian inilah yang harus terus dipelihara oleh para generasi muda, agar kedepannya lahir kaum cendekiawan yang mampu membawa perubahan yang baik dan memberikan sumbangsi pemikiran yang besar untuk bangsa dan Negara. (rls)

*Aktifis Perempuan Sulawesi Selatan