Pemuda Muhammadiyah Sebagai Tenda Besar

0
111

Pemuda Muhammadiyah Sebagai Tenda Besar
Oleh : Iu Rusliana*

Muktamar Pemuda Muhammadiyah hanya tinggal hitungan hari. Di Yogyakarta, 24-28 November 2018, forum musyawarah tingkat nasional empat tahun sekali itu akan digelar. Konon, salah satu amal usaha perguruan tinggi di Yogyakarta, menanggung sebagian besar biayanya.

Hanya saja, harus diakui, gaung wacananya lebih ramai oleh adanya upaya kepolisian menanyakan kegiatan muktamar ke berbagai wilayah dan daerah dibandingkan dengan ide-ide besar kader muda Muhammadiyah. Gorengan isu ini sepertinya jauh lebih seksi dibandingkan membangun wacana kritis di area publik. Wacana tentang kebangsaan, keumatan dan persyarikatan. Bagaimanapun Pemuda Muhammadiyah merupakan pelopor, pelangsung dan penyempurna persyarikatan.

Bahkan, panitia pusat pun hanya sibuk dengan urusan teknis kegiatan, dibandingkan membangun diskursus publik yang mencerahkan dan mendorong kemajuan. Ruh intelektual pemuda Muhammadiyah mulai terkalahkan oleh gerakan politik, pemenangan kandidat calon ketua umum. Suatu hal yang ironis, menyakitkan. Bahkan, bau tak sedap tentang janji-janji pragmatisme politik untuk proses pemberangkatan dan bekal dari kandidat tertentu membuat kekaderan kandidat itu diragukan. Ketika kekuasaan hendak dibeli, maka tak ada harapan kemajuan dari pigur seperti itu.

Sebagai organisasi yang tua, lebih tua dari usia republik ini, lahir 2 Mei 1932, Pemuda Muhammadiyah harusnya menjadi lokomotif gerakan pembaharuan berkelanjutan. Bukan menjadi kader-kader jumud, miskin ide, cenderung politis partisan dan pragmatis. Masa depan Muhammadiyah menjadi pertaruhan mengkhawatirkan bilamana kader mudanya tumbuh dalam budaya organisasi yang miskin moral dan tanpa malu menjadikan organisasi sebagai tameng membesarkan pribadi, instan membangun ketokohan, dan jauh dari gerakan kejamaahan.

Pemuda Muhammadiyah hendaknya menjadi tenda besar bersama semua kelompok politik dan aspirasi kader. Begitulah sejatinya Muhammadiyah dalam bergerak. Perhelatan politik yang terjadi, tak menjadikan organisasi ini menjadi kelompok pendukung calon tertentu. Muhammadiyah selalu berada di tengah, penjaga moral dan mewadahi berbagai kepentingan.

Posisi saudara Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai koordinator juru bicara salah satu calon Presiden-Wakil Presiden tanpa terlebih dahulu non aktif sungguh membuat posisi pemuda Muhammadiyah dilematis. Aspirasi politik saudara Dahnil boleh jadi sama dengan sebagian individu kader, tapi menjadikan organisasi ini seolah-olah sebagai tameng untuk meraih posisi strategis tertentu adalah tindakan memalukan.

Mau tidak mau organisasi besar ini menjadi terkesan partisan. Padahal aspirasi kader beragam. Memang tidak ada aturan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) yang memerintahkan untuk non aktif. Hanya saja, nalar sehat, istilah yang selalu digaungkan oleh saudara Dahnil Anzar, harusnya dipergunakan. Terlalu kecil dan menyedihkan, organisasi besar ini menjadi partisan. Jika ini menjadi gerakan yang dilestarikan, rusaklah proses kaderisasi dan organisasi ini menjadi tidak sehat. Lalu apa yang bisa diharapkan?

Oleh karena itu, jikapun dikatakan terlambat, semoga saja segera dilakukan perbaikan. Atau di forum resmi nanti, seluruh pimpinan organisasi ini meminta pertanggungjawaban langsung atas pilihan politik partisan yang membahayakan keberlangsungan organisasi ini. Baju sebagai ketua umum tak bisa dilepaskan saat menjadi juru bicara. Apalagi sikap nyinyirnya yang membuat kami di wilayah merasa malu dan sedih. Benar-benar kecelakaan sejarah dalam pergerakan Pemuda Muhammadiyah.

Pemuda Muhammadiyah harus dikembalikan ke khittah awalnya. Memperkuat gerakan keilmuan dan amal sebagai bentuk jihad di jalan Allah Swt. Ragam profesi kader harus diwadahi dan menjadikan pimpinan berusaha membuka jalan kaderisasi yang lebih luas dan terbuka.

Organisasi ini harus menjadi tenda besar aktualisasi aspirasi kader. Menjadi pelayan bagi pengembangan organisasi di bawahnya. Sehingga bertumbuh para kader yang kuat akidah dan ideologi, berpendidikan tinggi, terampil, memiliki pengalaman kepemimpinan di internal organisasi dan publik, kuat jejaringnya di luar dan ke media massa, serta memiliki visi kewirausahaan yang hebat. Jika kompetensi kader ini bisa diwujudkan, harapan itu masih ada dan kemajuan organisasi menjadi harapan. Optimisme berjuang di organisasi akan terbuka dan geliat intelektual kader Muhammadiyah akan terbangun dengan meluas, ibarat bunga di mulai merekah. Wallaahu’alam (*)
*Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat