Pernikahan dan Perceraian yang Membebaskan

Kabarpena.com – Beberapa hari ini timeline media sosial saya diramaikan dengan berita publik figur yang memilih untuk bercerai dari pasangannya. Itu membuat saya yang tahun ini akan genap berumur 30 tahun jadi semakin ragu dengan pernikahan.

115

Kabarpena.com – Beberapa hari ini timeline media sosial saya diramaikan dengan berita publik figur yang memilih untuk bercerai dari pasangannya. Itu membuat saya yang tahun ini akan genap berumur 30 tahun jadi semakin ragu dengan pernikahan.

Segala macam cerita tentang pernikahan sudah cukup sering saya dengar sejak lima tahun lalu. Dari mulai pengglorifikasian pernikahan, sampai cerita pahit bahtera rumah tangga. Dalam hati saya yang kadang kesepian dan kadang keramaian kerjaan ini, saya hanya bisa membatin “semoga kalau saya memang berjodoh, saya akan bahagia lahir batin”.

Karena ternyata, uang dan paras yang mumpuni bukan jadi jaminan kalau kita akan bahagia di pernikahan. Artis-artis yang bercerai itu jadi buktinya.

Biasanya sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan, beragam pertanyaan dan pertimbangan muncul, seperti mana yang terlebih dulu disiapkan, uang atau mental?

Saya lalu melihat kakak saya satu-satunya, laki-laki, lebih tua delapan tahun dari saya, yang memilih untuk menikah di usia 37 tahun. Banyak yang bilang umur begitu sudah terlampau terlambat untuk meresmikan acara pernikahan. Kakak saya menjawab pada saat itu, mentalnya belum siap. Meskipun dari segi finansial, Alhamdulillah kakak saya tergolong sudah cukup mapan.

Dari situ, saya melihat mental bukan pertimbangan enteng. Sekian lama menunggu mental yang siap akhirnya kakak menikah.

Kembali ke soal perceraian, beberapa teman saya yang menikah “kemarin sore” juga memilih jalan ini untuk mengakhiri penderitaan mereka di bahtera rumah tangganya. Masalah di rumah tangga mereka beragam. Dari mulai perselingkuhan yang tidak pernah redup untuk menyalakan api emosi, pasangan yang tidak saling menghormati dan menghargai, sampai menikah karena terpaksa – iya, karena perjodohan. Yang paling menyakitkan adalah ketika mendengar mereka yang mau bercerai karena sudah tersakiti batinnya tapi tidak bisa karena sudah mempunyai anak.

Saya menyimak cerita mereka sambil mencoba menelaah di mana letak kesalahan mereka. Apakah karena rasa cinta dan kasih sayang yang tadinya menggebu-gebu itu hilang termakan oleh kejenuhan? Apakah harta yang dimiliki mereka untuk liburan romantis ke tempat-tempat yang muahal itu tidak cukup untuk menyelamatkan rumah tangga mereka? Apakah paras pasangannya yang tampan dan cantik itu tidak dapat menghangatkan hati mereka? Atau memang sebenarnya tidak ada rasa cinta dan sayang diantara mereka, sehingga berakhir dengan perceraian?

Kisah manis dan foto-foto yang lumayan membuat saya berkhayal “kapan ya saya bisa seperti mereka?” kini menjadi memori yang ingin mereka lupakan. Kata menyesal berkali-kali mereka ucapkan diiringi dengan makian dan terkadang air mata yang mengalir dengan sendirinya. Mereka yang sudah mengorbankan kebebasannya dari seorang lajang yang dapat berkelakuan semau mereka, mendadak merasa dunianya hancur berantakan karena ulah mereka sendiri.

Janji suci yang teman-teman saya ucapkan ketika menikah dulu seketika terngiang di telinga saya. Janji yang sepertinya sangat berat untuk ditepati karena terucap langsung dalam nama Tuhan.

Dari semua cerita yang saya dengar, saya sadar bahwa saya bukan orang yang pantas untuk menghakimi keadaan rumah tangga orang lain. Lha wong punya pacar saja nggak, gimana mau tahu rasanya hidup berdampingan dengan orang lain. Tapi saya ingat kalau saya pernah dinasihati oleh teman saya yang berumur lima tahun lebih tua dari saya, “Menikahlah karena cinta. Bukan karena harta. Apalagi karena terpaksa,” dan nasihat itu terpatri di otak saya.

Pernikahan dan perceraian adalah dua hal yang bertolak belakang. Tapi, apakah keduanya sama-sama membawa kebahagiaan? Pernikahan itu seharusnya membebaskan, bukan? Pun perceraian, seharusnya. Jiwa yang hampa dan terkekang akan kembali hidup. Terisi dengan cerita baru. Tentang cerita lama, mungkin dapat dikenang. Atau dibuang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.