Kata seks yang dianggap tabu, hasrat yang menggebu, dan hati yang pilu

Seabreg kejadian pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia sudah pasti buanyak penyebabnya. Dari mulai minimnya pendidikan seks di sekolah dan lingkungan terdekat, sampai yang paling gebleg adalah yang terjadi pada akhir-akhir ini.

45

Sejak kapan kita, rakyat Indonesia yang masih waras ini, meminta pemerintah yang berkuasa untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual? Sebuah rancangan undang-undang yang dapat melindungi semua pihak tanpa terkecuali. Baik itu pria maupun wanita, sudah menikah atau belum menikah. Tapi apakah permintaan kita didengar? Tidak. Permintaan kita dianggap kurang penting. Permintaan kita dianggap kurang nggenah.

Seabreg kejadian pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia sudah pasti buanyak penyebabnya. Dari mulai minimnya pendidikan seks di sekolah dan lingkungan terdekat, sampai yang paling gebleg adalah yang terjadi pada akhir-akhir ini. Menormalisasi dan bahkan memonetisasi kejahatan seks. Apanya yang normal coba dari kejahatan seks? Dan orang waras mana yang tega-teganya memonetisasi kejahatan seks yang telah ia lakukan terhadap banyak orang?

Kata seks yang dianggap tabu jadi topik yang banyak dihindari oleh orang Indonesia untuk dibicarakan secara gamblang. Sebelum kita lanjut, seks bukan hanya sekadar topik tentang kegiatan berhubungan badan, berciuman, dan lain sejenisnya lho ya.

Topik pembicaraan seks bisa juga tentang menstruasi yang dialami oleh perempuan, desir-desir yang terasa di beberapa bagian tubuh kita ketika ada rangsangan, sampai hasrat terhadap orang lain yang kerap muncul di masa akil baligh seorang manusia. Ya walaupun menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia) sih arti dari seks tuh ada dua. Pertama, jenis kelamin. Kedua, hal yang berhubungan dengan alat kelamin, seperti senggama. Oh well…

Banyak orang yang berpikir bahwa segala yang berhubungan dengan kata seks itu kotor. Makanya mereka enggan membicarakannya. Boro-boro mau memberikan pendidikan seks di sekolah. Lha wong mau ngomongin tentang seks saja nggak mau, toh?

Coba berapa kali kalian ditegur oleh orang sekitar ketika bertanya apapun yang ada kaitannya dengan seks? Kalau saya sih dulu ditegur keras dan disentil mulutnya oleh guru saya ketika saya bertanya kenapa bisa ada bayi di dunia ini. Padahal sumpah demi Gusti Allah, saya 100% niat bertanya karena memang tidak tahu. Saya pada saat itu berumur 11 tahun dan sudah mengalami perubahan biologis yang menjadi tanda-tanda kedewasaan saya. Akhirnya ya saya cari sendiri jawabannya dari teman-teman sekelas yang sudah lebih advanced dari saya tentang persoalan kenapa bisa ada bayi di dunia ini.

Dan saya pada saat itu tercengang. “Oh jadi gitu”.

Oke, lanjut.

Pendidikan seks terbukti juga sangat diperlukan ketika saya mendengar cerita dari salah satu teman saya. Sebut saja namanya Andi. Andi yang bekerja di industri kreatif ini akan genap berusia 30 tahun dalam beberapa bulan ke depan. Memori kelam ketika ia mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh kakak sepupunya sendiri masih jelas ada diingatannya. Memori itu dapat muncul dengan sendirinya jikalau ia membaca cerita yang berkaitan dengan pelecehan seksual.

Pelecehan seksual yang dialami Andi terjadi ketika ia berumur 11 tahun. Ia yang pada saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar belum mengerti apapun tentang seks. Sampai pada suatu malam, ketika ia sedang mengerjakan PR di rumah kakak sepupunya, hal buruk itu terjadi. Orang yang melecehkan Andi adalah orang yang membimbing Andi mengerjakan PR tersebut. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupunya sendiri.

“Kakak sepupu gue pas dia SMA kan pinter tuh. Jadi kalau ada PR yang gue nggak bisa, gue disuruh ke dia buat belajar.

Nah waktu itu gue lagi ngerjain PR di kamar tidurnya dia. Pintu kamar dia tutup tuh. Karena gue ngerjain PRnya di lantai, otomatis gue nungging kan. Terus dia gesek-gesekin alat vitalnya ke pantat gue! Sekitar 15 menit ada kali ya.

Nggak sekali dia kayak gitu ke gue. Pokoknya tiap gue ke sana buat belajar.

Ya awalnya gue diem aja, wong nggak ngerti apa-apa. Besoknya pas dia kayak gitu lagi, kalau gue udah ngerasa nggak nyaman banget, gue geser posisi gue”.

Apakah ada diantara kalian yang membaca cerita dari Andi tadi berpikir “lah kok ya nggak lapor ke orang yang lebih tua?”

Sabar dulu, kawan. Setelah beberapa kali Andi diperlakukan demikian oleh kakak sepupunya, ia akhirnya bilang kepada ibunya. Tapi sayangnya, ibunya meragukan cerita Andi. Beliau tidak percaya kakak sepupu Andi yang pintar itu bisa-bisanya melakukan tindakan sedemikian rupa ke Andi, yang jelas-jelas adalah adik sepupunya sendiri. Andi pun bungkam. Karena ya mau mengadu ke siapa lagi kalau ibu sendiri saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.

“Lalu, gue pindah sekolah kan tuh ke tempat yang agak ditengah perkotaan. Di sana gue mulai paham tentang seks.

Gue tahu dari temen-temen gue kalau mereka lagi ngomong jorok. Mereka juga udah pada baca komik porno. Gue ikutan baca lah. Dari situ gue ngerti kalau yang dilakukan kakak sepupu gue ke gue tuh gak bener. Ya walaupun pada saat itu juga gue belum ngerti tentang pelecehan seksual sih.”

See? Lagi, mengetahui tentang adanya hal yang bernama seks dari teman sebaya. Teman yang sama cluelessnya. Teman yang juga belum mampu memilah mana yang harus diketahui dan tidak diketahui sesuai umur mereka.

Dari sini saja kita tahu bahwa pendidikan seks sejak dini – yang sesuai umur, pastinya – sangat penting. Masa iya kita mau membiarkan generasi muda penerus bangsa tersesat atau malah keblinger ketika ada pembicaraan tentang seks?

Pelaku pelecehan dan/atau kekerasan seksual sering kali sudah mengerti celah yang dapat meloloskannya dari jerat hukum. Kata maaf juga sangat jarang terucap dari mereka. Bahkan cukup sering mereka tetap mencari pembelaan untuk diri mereka. Sama seperti kakak sepupu Andi, ia tidak pernah meminta maaf pada Andi atas hal bejat yang pernah ia lakukan dulu.

“Tapi, gue udah memaafkan kakak sepupu gue kok. Kalau gue terlalu membenci, gue jadi terbebani. Hidup jadi nggak tenang.

Hanya saja, walaupun gue memaafkan, gue nggak melupakan”.

Andi yang saya kenal periang dan sering melontarkan bercandaan konyol masih terlihat pilu ketika menceritakan kejadian tak bermoral yang menimpa dirinya belasan tahun silam.

Menormalisasi dan memonetisasi kejahatan seksual juga sepertinya sempat marak di negera kita yang gemah ripah loh jinawi ini. Banyaknya platform yang tersedia di ranah digital digunakan para content creator untuk bercerita tentang pengalaman seks mereka dari yang biasa-biasa saja, sampai yang sebenarnya adalah sebuah pelecehan seksual.

Percayalah, menggembar-gemborkan pengalaman telah berhubungan seksual dengan banyak orang di ranah publik tidak akan membuat kita terlihat keren. Apalagi kalau ternyata ada aktivitas lain yang dilakukan tanpa konsensual. Ditambah tawa yang terbahak dan senyum yang selalu merekah ketika bercerita tentang itu semua. Sungguh jauh dari kata keren.

Ada orang yang menjerit tanpa suara, yang menyakiti dirinya sendiri, yang mendadak merasa ling-lung, dan lain sebagainya ketika mendengar atau menonton cerita semacam itu. Mereka takut bersuara, takut mengaku bahwa mereka adalah korban pelecehan seksual dan/atau kekerasan seksual.

Tidak ada payung hukum yang dapat melindungi korban pelecehan dan kekerasan seksual secara pasti di negara ini. Keberanian mereka untuk mengungkapkan apa yang telah mereka alami harusnya dijadikan sebuah penghargaan untuk mereka.

Mereka yang sudah mempertaruhkan nama dan muka mereka. Mereka yang sudah berani untuk menghadapi stigma masyarakat. Mereka yang jauh lebih berhak untuk hidup layak dibanding para pelaku pelecehan dan/atau kekerasan seksual itu.

Oleh: Tsuri

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.