Tato: Yang Bertinta, yang Bercerita

Melukis tubuh perlu dilihat sebagai sebuah karya seni. Namun di Indonesia, tato masih menjadi momok. Mari nikmati tulisan soal tato dan pengalaman pemuda yang satu ini.

57

Kabarpena.com – Tato yang menghiasi kulit tubuh sering kali dianggap sebagai hal buruk oleh masyarakat awam di negara kita tercinta ini. Anggapan bahwa orang-orang yang tubuhnya bertato adalah orang jahat telah ada sejak lama. Tak jarang mereka dikira residivis, penjual barang dan/atau jasa terlarang, sampai begundal yang tidak punya akal. Tapi, apakah kita dapat “pukul rata” anggapan itu? Apakah orang-orang yang bertato pasti bekerja di bidang yang “hedon”?

Saya memutuskan untuk bertato sejak usia saya 25 tahun. Saya tidak pernah menghitung berapa jumlah tato yang saya miliki dan berapa jumlah uang yang sudah saya gelontorkan untuk semua tato yang ada di tubuh saya. Yang saya tahu, setiap tato saya memiliki makna tersendiri.

Dengan adanya tato yang menghiasi lengan, jari tangan, sampai kaki saya tentu saya sering sekali mendapat tatapan yang tidak mengenakan dari orang lain ketika saya berada di tempat umum. Anggapan bahwa orang bertato adalah orang brengsek masih melekat dalam pikiran banyak orang.

Contohnya, saya pernah ke sebuah tempat ibadah dan ada satu anak menatap lengan kiri saya yang dihiasi banyak tato ini lekat-lekat. Beberapa detik kemudian, orang tua anak tersebut berkata persis seperti apa yang akan saya tulis berikut ini, “Jangan diliatin! Kakak itu orang jahat,” suaranya terdengar keras hingga beberapa orang menengok ke arah mereka dan saya. Saya bisa apa? Ya hanya bisa tersenyum kecut.

Bagaimana dengan keluarga saya ketika mereka tahu bahwa saya bertato? Ibu saya yang cukup religius pada saat itu tentu kaget. Saya masih ingat kejadian pada hari Sabtu sore beberapa tahun silam. Beliau yang baru selesai menunaikan sholat ashar berucap, “Astaghfirullah, Nak. Ini bisa dihilangkan ‘kan? Nanti ibu kasih uangnya ya,”

Tato di Lengan
Sumber: tattoist sion

Belum lagi kakak saya yang lahir dan besar di zaman orde baru. Ia menganggap bahwa orang yang bertato tidak akan bisa mendapat pekerjaan yang layak. Orang bertato adalah sampah masyarakat yang mengemban aib dalam dirinya. Dan orang bertato tidak pantas untuk dihargai oleh orang lain.

Sedangkan almarhum ayah saya dulu hanya bisa menghela nafas. Sembari menyesap teh hangat di sore yang agak mendung itu, beliau bertanya sebuah pertanyaan retoris “kamu tahu kan kalau nanti kamu nggak bisa jadi PNS atau pegawai BUMN?” Iya, impian ayah saya untuk mempunyai dua orang anak yang bekerja di kantor pemerintahan sirna.

Sejak saya bertato, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk mengenakan baju lengan panjang agar tato saya tidak terlihat. Alasannya juga tetap sama, “nggak enak dilihat orang. Nanti disangkanya kamu bukan anak baik-baik,” diikuti dengan cekatannya beliau dalam mengambil jaket atau sweater dari lemari baju untuk saya.

Stigma buruk yang melekat untuk orang bertato sepertinya telah mengakar dan mendarah daging. Bukan hanya dalam mendapatkan pekerjaan yang layak, dalam hal mendapatkan pasangan hidup saya juga dihadapkan dengan pertanyaan, “kok kamu tatoan sih? Apa yang membuat kamu memutuskan untuk bertato?”, “Duh gimana ya, kayaknya aku gak bisa deh kalo nanti harus ngenalin kamu ke keluarga aku. Habisnya kamu tatoan sih.”

Kadang ada kalanya hati saya berteriak, “nggak semua orang yang kulitnya bersih tanpa tinta dan rajin beribadah itu kelakuannya baik ke sesama manusia. Nggak semua orang yang bertato itu gak punya keahlian. Nggak semua orang yang bertato itu bajingan.” Tapi, untuk saya yang mageran ini, malas rasanya menghabiskan energi untuk membantah orang-orang yang seenaknya menghakimi. Saya lebih memilih untuk diam tanpa ekspresi, lalu pergi.

Mau atau tidak mau untuk bertato itu pilihan. Ya namanya juga hidup, pasti kita harus memilih mau ada di jalan yang mana. Walaupun sering kita muak dengan pilihan yang ada.

Saya memilih untuk bertato. Terlepas dari anggapan orang. Terlepas dari adat istiadat yang dimiliki oleh keluarga saya. Terlepas dari agama yang saya anut. Bagi saya, diterima atau tidaknya amal ibadah saya oleh Tuhan adalah hak prerogatif-Nya.

Karir saya juga masih dapat berjalan dengan cukup baik. Di tempat saya bekerja, tidak ada aturan wajib untuk menutup rapat semua tato saya, yang penting saya berpakaian sopan dan layak. Oh iya, saya bekerja sebagai guru bahasa asing di lembaga informal. Tupoksi saya setiap harinya adalah membuat materi ajar, mengajar, dan bertemu dengan orang tua/wali murid untuk mendiskusikan perkembangan anak mereka di kelas. Dan hampir 40% kulit tubuh saya dihiasi oleh tato. Oh iya, yang di foto itu bukan saya. Saya nggak secakep dan seimut itu kok.

Ditulis oleh Tsuri.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.